kehilangan #2
'nyatanya, kehilangan diri sendiri lebih membuat nestapa'
(2020)
Kehilangan akan tetap menjadi hal yang paling menakutkan bagi setiap orang.
Bisa dipastikan setiap orang takut kehilangan.
Tapi, kembali lagi, bahwa takdir tetap lah takdir, tak ada yang bisa menghalangi.
Terlebih soal 'pergi'.
Rasanya mimpi jika menginginkan hidup hanya senangnya saja, sebab hidup memang ditakdirkan memiliki dua rasa, sedih-bahagia, susah-mudah, sempit-lapang.
Ya, memang tak ada yang kekal didunia ini, banyak hal yang harus dilepaskan dan diikhlaskan, kerana sejatinya, tak ada istilah saling memiliki diantara kita yang ada hanya saling dititipi.
9/1 /2020
Hari itu aku merasakan kehilangan kembali, kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup. Kehilangan sosok ibu, bukanlah hal yang mudah untuk aku menerima kenyataan pahit itu.
Aku marah, aku kecewa, aku terluka, aku tentu tak terima, hingga aku menerka-neraka apa yang sebenarnya Allah inginkan?
Aku kehilangan diriku sendiri, aku berjalan cukup jauh tanpa arah yang jelas, rasanya aku ingin selesai, aku ingin menyerah pasrah.
Sampai pada akhirnya, dihari-hari berikutnya, aku tetap tak temukan tenang dan lega.
Saat itu seharusnya aku berangkat ke kampus, tapi entah apa yang membuat aku menghentikan perjalanan di sebuah mesjid besar yang sepi, aku masuk kedalamnya dengan perasaan tak keruan.
Aku terduduk di Shaf pertama tempat sholat wanita, lagi-lagi entah apa yang membuat aku membuka lembaran demi lembaran dzikir pagi.
“Ashbahnaa wa ashbahal (Amsaina wa amsaa) mulku Lillahi walhamdu Lillahi Laa Syarii kalah Laa ilaaha illa huwa Wa illaihin nusyur”
“Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah, Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia dan kepada-Nya tempat kembali”
Jleb! Kenapa aku ini? Apa yang aku lakukan? Aku sadar, semua akan kembali padanya, dan hanya Allah tempat kembali, kenapa aku harus marah? Kenapa aku aku harus terluka? Untuk suatu hal yang sudah menjadi ketetapan.
Tangis yang sudah aku tahan berminggu-minggu itu akhirnya tumpah, tangis yang aku tahan sekuat tenaga agar tetap terlihat kuat itu sudah tak terbendung lagi.
Ashbahnaa (amsainaa) ‘ala fithrotil Islam wa kalimatil ikhlash wa ‘ala diini nabiyinaa Muhammadin shollawllahu ‘alaihi wasalam wa ‘ala millati abiinaa Ibroohima haniifan wa maa kana minal musyrikiin “
“Kami berpagi/bersore hari di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhas, di atas agama nabi kami: Muhammad saw, dan di atas millah (agama) bapak kami : Ibrahim yang hanif. Dan ia bukan termasuk golongan orang-orang musyrik."
Lagi dan lagi, tangisku semakin pecah, tak peduli dengan orang-orang yang berada disana saat itu.
Allah, ajari aku kalimat ikhlas itu, ajari aku berdiri diatas kalimat ikhlas itu.
Lembaran demi lembaran kembali ku buka perlahan, mencoba memaknai setiap kalimat dalam dzikir itu.
'Semua milik Allah bukan?, jika kamu yakin semua milik Allah dan akan kembali pada Allah, lantas apa yang masih kita khawatir kan?'
Sejak saat itu, kehilangan bukan menjadi hal yang menakutkan lagi buatku, karena dari kehilangan aku menemukan banyak part berharga dalam hidup.
Dan sekarang, aku semakin yakin, saat semua orang pergi meninggalkan mu, ada Allah yang selalu mendekapmu dalam rahman rahim nya.
Dear umi sayang,
"banyak orang yang sedih ditinggalkan umi, banyak orang yang merasa kehilangan umi, banyak orang yang kehilangan kebaikan-kebaikan yang selama ini umi upayakan. Maka, berbahagialah umi, umi sudah mewujudkan hal yang selalu menjadi cita-cita umi, 'menjadi sebaik-baiknya manusia, yaitu yang dapat bermanfaat bagi banyak orang.' insyaa allah umi sudah wujudkan itu. "
Bandung, 25/7/2020 [09.42]
Komentar
Posting Komentar