Boleh Aku Ikut Membesarkan Mimpimu?
Untuk laki-laki yang suatu hari akan Allah pertemukan denganku,
Aku tidak tahu sedang sibuk apa hari ini. Mungkin sedang mengejar sesuatu. Mungkin sedang jatuh bangun merawat mimpi yang bahkan belum diketahui banyak orang.
Kalau boleh jujur, aku tidak pernah benar-benar berharap menikah dengan laki-laki yang hidupnya biasa-biasa saja.
Bukan karena aku mendambakan jabatan, kekuasaan, atau kehidupan yang gemerlap. Aku hanya selalu jatuh cinta pada orang-orang yang hidupnya dipenuhi alasan untuk bangun setiap pagi.
Aku ingin melihat matamu berbinar ketika bercerita tentang sesuatu yang kau perjuangkan. Aku ingin mendengar bagaimana kepalamu dipenuhi gagasan yang mungkin dianggap terlalu besar oleh banyak orang.
Karena entah mengapa, di situlah aku merasa ingin hadir.
Aku tidak selalu ingin menjadi orang yang berdiri di depan panggung. Aku tidak keberatan jika namaku tidak dikenal banyak orang.
Tapi kalau suatu hari orang-orang melihatmu berdiri di sana, aku ingin menjadi salah satu alasan mengapa langkahmu tidak pernah benar-benar berhenti.
Kalau nanti mimpimu terlalu berat, izinkan aku ikut memikulnya.
Kalau nanti kau lelah, izinkan aku menjadi rumah yang tidak menghakimi lelahmu.
Kalau nanti semua orang meragukanmu, izinkan aku menjadi orang pertama yang masih percaya.
Kalau nanti kau lupa alasan mengapa semua ini dimulai, izinkan aku mengingatkannya.
Aku tidak ingin sekadar menemanimu sampai tua.
Aku ingin ikut bertanggung jawab atas mimpi yang Allah titipkan kepadamu.
Karena aku percaya, Allah tidak hanya memasangkan dua orang untuk saling mencintai.
Kadang Dia mempertemukan dua orang agar lahir sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Mungkin itu sebuah keluarga yang melahirkan generasi baik.
Mungkin sebuah gerakan yang menguatkan banyak orang.
Mungkin sebuah karya.
Mungkin sebuah perjuangan.
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu, aku tidak ingin pernikahan kita hanya berhenti pada kalimat "bahagia selamanya."
Aku ingin suatu hari, ketika kita sama-sama dipanggil pulang, ada begitu banyak jejak kebaikan yang masih berjalan karena Allah pernah mempertemukan kita.
Kalau kelak Allah benar-benar menjadikanmu suamiku, jangan takut bermimpi besar.
Aku mungkin tidak bisa mengerjakan semuanya untukmu.
Tapi aku berjanji akan menjadi orang yang selalu mengingatkan bahwa mimpimu tidak sedang kau perjuangkan sendirian.
Karena sejak akad itu terucap, semoga yang menjadi mimpimu juga menjadi mimpiku.
Dan semoga yang menjadi mimpiku juga kau rawat sepenuh hati.
Bandung, 7 Juli 2026,
dari teman perjalananmu di masa depan.
Komentar
Posting Komentar