Mengapa Perempuan yang Banyak Membaca Sering Dianggap Terlalu Serius?
Ada sebuah kalimat yang beberapa waktu lalu membuat saya berhenti sejenak, saya membacanya di sebuah blog yang belakangan ramai dan menjadi trend di tiktok judulnya: "Antara Buku dan Perempuan? Rocky menjawab: Perempuan yang Membaca Buku"
Namun, yang membuat saya tertarik bukanlah kalimat itu sendiri, melainkan pertanyaan yang muncul setelahnya.
Mengapa
perempuan yang membaca buku terasa begitu istimewa?
Bukankah
membaca adalah aktivitas yang sama-sama dapat dilakukan oleh siapa saja? Lalu
mengapa ketika seorang perempuan melakukannya, kita merasa sedang menyaksikan
sesuatu yang berbeda?
Semakin
dipikirkan, semakin saya merasa bahwa yang menarik bukanlah bukunya, melainkan
cara masyarakat memandang perempuan. Kita tumbuh dengan begitu banyak gambaran
tentang seperti apa perempuan yang ideal.
Perempuan
yang lembut.
Perempuan
yang penyayang.
Perempuan
yang pandai mengurus rumah.
Perempuan
yang menyenangkan diajak berbicara.
Semuanya
adalah kualitas yang baik.
Namun
entah mengapa, ketika seorang perempuan juga senang membaca, menikmati diskusi,
atau gemar mengajukan pertanyaan, respons yang muncul sering kali berubah.
"Serius
sekali, ya."
"Pasti
orangnya kritis."
"Cowok
jadi minder."
Kalimat-kalimat
seperti itu terdengar ringan. Tidak jarang diucapkan sambil tertawa. Namun
bukankah candaan sering kali lahir dari sesuatu yang telah lama kita anggap
wajar?
Saya
kemudian bertanya-tanya.
Mengapa
yang membuat kita gelisah bukan buku yang ia baca, melainkan perempuan yang
membacanya?
Fenomena
ini ternyata bukan sesuatu yang lahir kemarin sore.
Dalam
sejarah Eropa, akses perempuan terhadap pendidikan pernah menjadi kemewahan.
Pada abad pertengahan, banyak perempuan baru dapat membaca dan menulis ketika
mereka berada di lingkungan biara. Nama-nama seperti Hildegard von Bingen atau
Christine de Pizan kemudian muncul sebagai pengecualian yang membuktikan bahwa
perempuan memiliki kapasitas intelektual yang selama ini tidak diberi ruang.
Berabad-abad
setelahnya, situasinya memang berubah. Mesin cetak membuat buku lebih mudah
diakses. Pendidikan mulai terbuka. Namun persoalan lain muncul.
Banyak
penulis perempuan memilih menggunakan nama samaran laki-laki agar karya mereka
dinilai berdasarkan kualitasnya, bukan berdasarkan jenis kelaminnya. Mary Ann
Evans menulis dengan nama George Eliot. Brontë Bersaudara menggunakan nama
Currer, Ellis, dan Acton Bell.
Memasuki
abad ke-20, Virginia Woolf melalui A Room of One's Own mengingatkan
bahwa seorang perempuan membutuhkan ruang, waktu, dan kemandirian ekonomi agar
dapat berpikir dan menghasilkan karya. Di banyak tempat, perjuangan perempuan
memperoleh akses terhadap ilmu memang menjadi bagian penting dari sejarah
peradaban.
Barangkali
karena sejarah itulah, hari ini perempuan yang membaca buku masih sering
dipandang sebagai sesuatu yang "berbeda".
Namun
ketika membaca sejarah itu, saya justru teringat pada sejarah yang lain, sejarah
yang jarang ikut dibicarakan ketika kita membahas perempuan dan ilmu.
Sejarah
Islam.
Menariknya,
Islam tidak memulai pembicaraan tentang perempuan dari pertanyaan, "Bolehkah
perempuan belajar?"
Islam
justru memulai dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
Untuk
apa manusia mencari ilmu?
Barangkali
karena itu, wahyu pertama yang Allah turunkan bukan berbicara tentang keluarga,
politik, perdagangan, atau bahkan hukum.
Peradaban
Islam dibuka dengan satu kata.
Iqra'. Bacalah.
Perintah
itu tidak ditujukan kepada laki-laki, tidak pula kepada perempuan. Ia ditujukan
kepada manusia.
Seolah
Allah sedang mengingatkan bahwa sebelum kita menjadi apa pun di dunia ini pemimpin,
ibu, ayah, akademisi, penulis, ataupun professional kita terlebih dahulu adalah
seorang hamba yang diperintahkan untuk terus belajar.
Di
titik ini, saya merasa Islam menawarkan orientasi yang berbeda.
Jika
dalam banyak pembahasan modern ilmu sering dipandang sebagai jalan menuju
kebebasan atau pengakuan, Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah jalan menuju
penghambaan.
Membaca
bukan semata agar terlihat cerdas, bukan agar memenangkan perdebatan, bukan
pula agar lebih unggul daripada orang lain, melainkan agar semakin mengenal
Allah, memahami diri sendiri, dan mampu menghadirkan manfaat bagi sesama.
Barangkali
karena orientasi itulah Islam tidak pernah mempertentangkan kecerdasan dengan
kelembutan. Kita sering mendengar anggapan bahwa perempuan yang terlalu banyak
berpikir akan kehilangan sisi femininnya.
Padahal
sejarah Islam justru memperlihatkan hal yang sebaliknya. Aisyah radhiyallahu 'anha
menjadi tempat para sahabat belajar. Beliau meriwayatkan ribuan hadis,
meluruskan berbagai persoalan fikih, bahkan menjadi rujukan bagi generasi
setelah Rasulullah ﷺ wafat.
Namun
sejarah tidak mengenangnya sebagai perempuan yang kehilangan kelembutan karena
ilmunya.
Justru
ilmu dan adab berjalan berdampingan, di sinilah saya merasa ada sesuatu yang
sering disalahpahami, islam tidak pernah meminta perempuan mengecilkan
pikirannya agar terlihat anggun, yang Islam ajarkan adalah agar ilmu selalu
melahirkan adab dan keduanya adalah hal yang sangat berbeda. Adab bukanlah
lawan dari kecerdasan, adab adalah buah dari kecerdasan yang dipandu oleh iman.
Hari
ini, kita hidup di zaman ketika perempuan diajarkan begitu banyak cara untuk
tampil. Cara berpakaian, cara berbicara, cara membangun citra, cara agar
disukai. Namun jauh lebih sedikit yang mengajak perempuan membangun isi
kepalanya.
Padahal,
barangkali yang paling lama tinggal bukanlah penampilan yang dipuji orang.
Melainkan
cara berpikir yang membuat seseorang mampu mengambil keputusan dengan
bijaksana, membesarkan keluarganya dengan ilmu, dan menghadirkan manfaat bagi
lingkungan sekitarnya.
Mungkin
benar, perempuan yang sedang membaca buku memang terlihat menarik, namun bukan
karena buku yang ada di tangannya, melainkan karena kita sedang menyaksikan
seseorang yang sedang membangun dirinya.
Halaman
demi halaman, kalimat demi kalimat. Dan mungkin, itulah mengapa Islam memulai
sebuah peradaban bukan dengan perintah untuk tampil memukau, melainkan dengan
ajakan untuk membaca.
Sebab
pada akhirnya, yang akan mengangkat derajat manusia bukanlah seberapa banyak ia
dipandang, tetapi seberapa dalam ia memahami. (**)
Komentar
Posting Komentar