Seorang Panglima, Sebuah Papan Tulis, dan Rahasia yang Tidak Dipahami Penjajah
“Apa yang sebenarnya paling ditakuti oleh seorang penjajah?”
Selama ini saya mengira jawabannya sederhana.
Senjata.
Pasukan.
Strategi perang.
Atau mungkin seorang panglima yang berhasil menyatukan perlawanan.
Namun, beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah kisah yang membuat saya mengubah cara pandang itu.
Bukan kisah tentang sebuah pertempuran.
Bukan pula tentang kemenangan di medan perang.
Melainkan tentang sebuah papan tulis putih.
Dunia mengenal Muhammad Deif sebagai salah satu sosok yang paling diburu Israel. Bertahun-tahun namanya hadir dalam laporan intelijen, operasi militer, dan pemberitaan internasional. Wajahnya nyaris tak pernah terlihat. Keberadaannya menjadi misteri. Bagi banyak orang, Muhammad Deif adalah simbol perlawanan.
Namun saya justru menemukan Muhammad Deif dari cerita yang sangat berbeda.
Dalam sebuah wawancara, putra-putrinya mengenang ayah mereka bukan melalui strategi perang, tetapi melalui kebiasaan yang mungkin tampak biasa bagi banyak keluarga. Menjelang ujian sekolah, sang ayah akan membawa sebuah papan tulis putih, lalu mengajarkan Matematika, Sains, dan pelajaran lainnya. Ia juga memiliki satu prinsip yang sederhana: jangan memaksa anak belajar sepanjang hari. Beri mereka waktu bermain, sebab belajar juga membutuhkan ruang untuk bertumbuh.
Saya membaca bagian itu berulang kali, sebab tiba-tiba saya menyadari sesuatu, dunia mengenalnya sebagai seorang panglima, anak-anaknya mengenalnya sebagai seorang guru.
Ada satu bagian lain dari wawancara itu yang membuat saya berhenti lebih lama.
Ketika ditanya tentang pesan yang paling sering disampaikan ayahnya, anak-anak Muhammad Deif tidak bercerita tentang latihan militer atau strategi peperangan. Mereka justru mengingat wasiat yang terdengar sangat sederhana: pahamilah Al-Qur’an, jangan sekadar menghafalnya. Carilah ilmu, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Dan jika suatu hari ayah mereka tidak sempat menyaksikan Al-Aqsa dibebaskan, maka mereka yang harus melanjutkan perjuangan itu. Jika bukan mereka, maka cucu-cucu mereka.
Saya menyukai cara berpikir itu, ia tidak sedang berbicara tentang kemenangan dalam hitungan bulan, bahkan tahun, ia sedang berbicara tentang kemenangan dalam hitungan generasi. Di situlah saya mulai memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatian kita.
Pembebasan tidak pernah dimulai dari peperangan. Pembebasan selalu dimulai dari pendidikan.
Jika kita membuka lembaran sejarah, hampir setiap proyek kolonialisme memiliki pola yang serupa, penjajah tidak hanya datang untuk merebut pelabuhan, kota, atau sumber daya alam. Mereka juga berusaha merebut sesuatu yang jauh lebih penting: cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Di Aljazair pada masa kolonial Prancis, sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Arab dan identitas Islam ditekan, sementara bahasa Prancis dijadikan alat asimilasi. Di banyak wilayah jajahan lain, sejarah ditulis ulang, budaya lokal dipinggirkan, dan generasi muda perlahan dijauhkan dari akar identitasnya.
Karena penjajah memahami satu hal yang sangat mendasar.
Tanah yang diduduki bisa direbut kembali. Tetapi generasi yang kehilangan jati dirinya jauh lebih sulit untuk dipulihkan.
Maka jangan heran jika dalam banyak konflik, yang diserang bukan hanya rumah-rumah, sekolah menjadi sasaran, universitas dibombardir, perpustakaan dimusnahkan, guru dibunuh, anak-anak dipaksa tumbuh tanpa ruang belajar. Semua itu tampak seperti kerusakan akibat perang, padahal sesungguhnya, yang sedang dihancurkan bukan hanya bangunan, yang sedang dihancurkan adalah proses lahirnya generasi berikutnya.
Di titik ini, papan tulis putih milik Muhammad Deif menjadi jauh lebih bermakna. Ia bukan sekadar alat belajar, ia adalah bentuk perlawanan.
Karena setiap kali seorang ayah mengajarkan ilmu kepada anaknya, setiap kali seorang ibu memastikan anak-anaknya tetap mengenal Al-Qur’an, setiap kali seorang guru membuka kelas di tengah reruntuhan, mereka sedang menggagalkan tujuan paling besar dari sebuah penjajahan: memutus mata rantai lahirnya generasi yang mengetahui siapa dirinya.
Hari ini, dunia menyaksikan Gaza bukan hanya sebagai wilayah yang dibombardir, tetapi juga sebagai tempat di mana perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang menanggung beban paling besar. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa mereka merupakan mayoritas korban sipil, sementara sekolah, universitas, rumah sakit, dan fasilitas publik mengalami kerusakan yang sangat luas. Di balik angka-angka itu, sesungguhnya ada sesuatu yang lebih besar sedang dipertaruhkan: keberlangsungan sebuah generasi.
Karena setiap guru yang gugur berarti hilangnya satu mata rantai ilmu, setiap ibu yang wafat berarti hilangnya satu ruang pertama tempat seorang anak belajar tentang kehidupan, dan setiap anak yang kehilangan keluarganya berarti ada masa depan yang sedang berusaha diputus. Mungkin inilah alasan mengapa perang tidak pernah hanya tentang peluru, perang juga tentang siapa yang akan hidup cukup lama untuk mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat saya takjub ketika melihat Palestina, di tengah reruntuhan bangunan, masih ada kelas-kelas kecil yang dibuka di tenda pengungsian, masih ada anak-anak yang menghafal Al-Qur’an, masih ada ibu yang mengajari anaknya membaca, masih ada guru yang menulis di papan seadanya. Mereka seolah sedang berkata kepada dunia,
“Kalian boleh menghancurkan bangunan kami. Tetapi kalian tidak akan menentukan siapa anak-anak kami kelak.”
Barangkali, di situlah bentuk perlawanan yang paling sunyi, dan mungkin juga, yang paling ditakuti oleh setiap penjajah.
Menariknya, cara berpikir seperti ini bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah Islam, ketika menelusuri perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan bahwa perubahan besar tidak dimulai dengan membangun benteng atau memperbanyak pasukan. Selama bertahun-tahun di Makkah, yang dibangun terlebih dahulu adalah manusia. Bilal dibentuk menjadi pribadi yang teguh, Mus’ab bin Umair dipersiapkan menjadi pendidik, Khadijah menopang dakwah dengan keteguhan dan pengorbanannya, Asma’ binti Abu Bakar mempertaruhkan keselamatannya demi menjaga keberlangsungan hijrah. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh satu proses yang sama: tarbiyah.
Islam seolah mengajarkan satu urutan yang tidak pernah berubah. Bangun manusianya, maka masyarakat akan terbentuk. Bangun masyarakatnya, maka peradaban akan berdiri. Urutan itu tidak pernah terbalik, karena sebuah peradaban tidak dipertahankan oleh tembok yang tinggi, ia dipertahankan oleh manusia yang mengetahui nilai apa yang harus dijaga.
Mungkin karena itu saya mulai melihat perempuan Palestina dari sudut yang berbeda, selama ini kita terlalu sering menyebut mereka sebagai korban perang. Padahal, mereka adalah penjaga kesinambungan sebuah peradaban, merekalah yang memastikan bahasa tetap diwariskan, al-Qur’an tetap dibaca, nama-nama kampung tetap diingat, doa-doa tetap diajarkan, harapan tetap hidup. Perempuan tidak hanya melahirkan anak, mereka melahirkan ingatan. Dan sebuah bangsa yang kehilangan ingatannya akan jauh lebih mudah dijajah daripada bangsa yang kehilangan bangunannya.
Lalu saya kembali mengingat papan tulis putih itu. betapa sederhana bentuknya, tidak ada yang istimewa. Namun kini saya melihatnya dengan cara yang berbeda. Di tangan seorang ayah, ia adalah alat untuk mengajar, di mata seorang anak, ia adalah kenangan, tetapi di mata seorang penjajah, mungkin justru itulah ancaman yang sesungguhnya.
Sebab sejarah berkali-kali membuktikan bahwa sebuah bangsa tidak benar-benar dikalahkan ketika tentaranya gugur, ia mulai kalah ketika generasi berikutnya tidak lagi mengetahui siapa dirinya. Dan sebaliknya, sebuah bangsa tidak mulai merdeka ketika benderanya berkibar, ia mulai merdeka ketika masih ada rumah-rumah yang tidak berhenti melahirkan manusia beriman, berilmu, dan berkarakter; ketika masih ada ayah yang menyempatkan diri mengajar anak-anaknya di tengah beratnya amanah; ketika masih ada ibu yang menjaga agar iman lebih kuat daripada rasa takut.
Barangkali, di situlah rahasia yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh setiap penjajah, mereka mungkin mampu menghancurkan kota, mereka mungkin mampu meratakan sekolah, mereka mungkin mampu membungkam suara. Tetapi selama masih ada keluarga yang mewariskan iman, ilmu, dan identitas kepada generasi berikutnya, selalu ada kemungkinan lahir seorang anak yang suatu hari akan kembali berdiri.
Karena ternyata, sebuah peradaban tidak selalu dipertahankan oleh mereka yang mengangkat senjata. Sering kali, ia dipertahankan oleh mereka yang tidak pernah berhenti membesarkan manusia. (**)
Komentar
Posting Komentar