Negara yang Membuat Warganya Terlalu Pandai Bersabar

"Barangkali yang paling menyedihkan dari sebuah bangsa bukan ketika rakyatnya hidup susah. Melainkan ketika mereka mulai percaya bahwa kesusahan adalah satu-satunya cara hidup yang mungkin."

Ada orang-orang yang sejak kecil tidak pernah benar-benar mengenal apa artinya memiliki pilihan. Bukan karena mereka malas bermimpi, melainkan karena hidup terlalu sibuk meminta mereka bertahan.

Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa bekerja hingga kelelahan adalah kewajaran. Bahwa pendidikan tinggi adalah kemewahan. Bahwa rumah layak huni hanya pantas dimiliki segelintir orang. Bahwa sakit adalah risiko yang harus diterima ketika biaya pengobatan terasa lebih menakutkan daripada penyakitnya sendiri.

Lama-kelamaan, semua itu tidak lagi terasa ganjil. Ia berubah menjadi sesuatu yang kita sebut, "namanya juga hidup." Dan mungkin, di situlah persoalannya bermula.

Saya percaya bahwa hidup memang tidak pernah menjanjikan kemudahan, setiap manusia akan kehilangan sesuatu yang dicintainya, akan gagal pada rencana yang telah disusun dengan matang, akan dipertemukan dengan hari-hari ketika doa terasa begitu panjang sementara jawaban belum juga datang. Begitulah kehidupan bekerja.

Tidak ada negara yang mampu menghapus duka dari dunia, tidak ada sistem yang dapat menjamin seluruh manusia akan selalu bahagia, tetapi belakangan saya mulai bertanya pada diri sendiri.

Benarkah semua kesulitan memang bagian dari kehidupan?

Atau jangan-jangan, sebagian di antaranya adalah sesuatu yang sebenarnya tidak pernah seharusnya kita warisi?

Ada perbedaan yang sering kali luput kita sadari, takdir mengajarkan manusia untuk bersabar, sementara sistem seharusnya memberi manusia kesempatan, keduanya bukan hal yang sama.

Ketika seseorang kehilangan orang tuanya, itu adalah takdir. Ketika seorang anak harus berhenti sekolah karena biaya pendidikan terlalu mahal, kita terlalu mudah menyebutnya sebagai takdir, padahal mungkin ada kegagalan kebijakan yang bekerja di belakangnya.

Ketika panen gagal karena bencana alam, itu adalah ujian kehidupan, tetapi ketika petani terus-menerus merugi karena tata niaga yang timpang, akses pupuk yang sulit, atau harga yang ditentukan tanpa melibatkan mereka, persoalannya tidak lagi sesederhana menerima keadaan.

Tidak semua penderitaan lahir dari langit, sebagian lahir dari keputusan-keputusan yang dibuat di bumi.

Barangkali kita terlalu sering mencampuradukkan keduanya, sehingga setiap kali melihat ketidakadilan, kita buru-buru berkata,

"Sabar, ya. Namanya juga hidup."

Padahal hidup memang meminta kita bersabar, tetapi kesabaran tidak pernah dimaksudkan untuk menutupi kegagalan manusia mengelola kehidupan bersama.

Ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya, manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk beradaptasi, kita mampu terbiasa dengan jalan yang rusak, terbiasa mengantre berjam-jam untuk pelayanan yang seharusnya sederhana, terbiasa dengan upah yang tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar, terbiasa melihat anak-anak putus sekolah, terbiasa membaca berita korupsi, terbiasa mendengar pejabat berjanji, terbiasa kecewa, yang perlahan berubah bukan kenyataannya, melainkan ambang batas kita terhadap kenyataan itu.

Apa yang dulu terasa tidak adil, lama-kelamaan hanya dianggap sebagai bagian dari rutinitas. Dan mungkin, tidak ada kemenangan yang lebih besar bagi sebuah sistem yang buruk selain ketika rakyatnya berhenti merasa ada yang salah.

Peradaban tidak selalu runtuh karena perang, kadang ia runtuh karena masyarakat kehilangan kemampuan membedakan antara kesabaran dan kepasrahan. Kesabaran membuat manusia tetap teguh ketika menghadapi takdir, sedang kepasrahan membuat manusia berhenti memperbaiki sesuatu yang sebenarnya masih bisa diubah. Keduanya tampak mirip, padahal arahnya bertolak belakang.

Saya teringat sebuah gagasan yang pernah disampaikan Hannah Arendt. Ia menjelaskan bahwa sesuatu yang terus-menerus diulang dapat kehilangan daya kejutnya. Bukan karena ia menjadi benar, melainkan karena manusia mulai menganggapnya biasa.

Barangkali itulah yang sedang kita alami, bukan karena kemiskinan menjadi lebih ringan, tetapi karena kita terlalu lama hidup berdampingan dengannya. Bukan karena pelayanan publik membaik, tetapi karena kita menurunkan standar tentang seperti apa pelayanan publik seharusnya. Bukan karena ketidakadilan menghilang, tetapi karena kita mulai kehilangan energi untuk mempertanyakannya.

Dan setiap kali itu terjadi, sebuah bangsa sesungguhnya sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pertumbuhan ekonomi, ia kehilangan kepekaannya.

Ironisnya, negara justru sering meminta rakyatnya menjadi tangguh, padahal rakyat memang sudah tangguh sejak lama, mereka tetap bekerja meski upahnya tak selalu cukup, mereka tetap berjualan meski keuntungan semakin tipis, mereka tetap menyekolahkan anak-anaknya meski harus mengorbankan banyak hal, mereka tetap membayar pajak, tetap menaati aturan, tetap berharap.

Barangkali yang kurang bukan ketangguhan rakyat, melainkan keberanian negara untuk membangun sistem yang membuat ketangguhan itu tidak terus-menerus dieksploitasi. Sebab negara yang baik tidak diukur dari seberapa tabah rakyatnya menghadapi penderitaan, negara yang baik diukur dari seberapa sedikit penderitaan yang sebenarnya bisa dicegah.

Dalam Islam, sabar adalah salah satu akhlak yang paling mulia, namun sabar tidak pernah berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung. Rasulullah ﷺ mengajarkan kesabaran ketika menghadapi musibah, tetapi beliau juga mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar, menegakkan keadilan, dan memikul amanah kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, menerima takdir tidak sama dengan membiarkan keburukan sistem. Justru salah satu bentuk syukur adalah menjaga amanah agar kehidupan bersama menjadi lebih adil bagi sebanyak mungkin manusia.

Mungkin karena itu saya mulai percaya bahwa ukuran kemajuan sebuah negara bukanlah seberapa sering ia mengucapkan cita-cita besar, melainkan seberapa banyak pilihan yang dapat dimiliki oleh rakyatnya: pilihan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, pilihan untuk bekerja tanpa kehilangan martabat, pilihan untuk berobat tanpa takut jatuh miskin, pilihan untuk membangun keluarga tanpa dihantui kecemasan ekonomi yang tak berkesudahan.

Karena kemiskinan tidak hanya merampas harta, ia sering kali lebih dahulu merampas kemungkinan.

Dan barangkali, yang paling menyedihkan dari semua ini bukanlah ketika seseorang hidup dalam kesulitan, melainkan ketika ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak pantas mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Sebab pada titik itu, yang hilang bukan hanya kesejahteraan, yang hilang adalah imajinasi tentang masa depan. Dan sebuah bangsa yang kehilangan imajinasi tentang masa depannya, perlahan akan kehilangan keberanian untuk memperjuangkannya. (**)

Komentar

Postingan Populer