Teh Hijau di Musim yang Sunyi
Ada fase ketika hidup tidak sedang buruk, tetapi juga tidak terasa begitu menggebu.
Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Pekerjaan selesai, rutinitas tetap dijalani, buku-buku masih dibaca, akhir pekan datang lalu berlalu. Dari luar, tidak ada yang tampak berubah.
Namun, entah sejak kapan, muncul satu pertanyaan yang pelan-pelan mengendap:
Ke mana perginya rasa antusias itu?
Kita hidup di zaman yang begitu mengagungkan gairah. Seolah setiap orang harus selalu jatuh cinta pada sesuatu—entah pekerjaan, pasangan, mimpi, atau proyek yang sedang dikejar. Media sosial dipenuhi orang-orang yang tampak selalu bersemangat, selalu menemukan hal baru untuk diperjuangkan.
Barangkali karena itulah, ketika hidup terasa lebih tenang, kita buru-buru menganggap ada yang salah.
Belakangan aku justru mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Mungkin ini bukan tentang kehilangan semangat.
Mungkin ini hanya soal musim.
Ada musim ketika seseorang dipenuhi rasa ingin tahu. Ada musim ketika sebuah mimpi membuatnya rela begadang. Ada musim ketika kehadiran seseorang mampu membuat hari-hari terasa lebih berwarna.
Namun ada pula musim yang lebih sunyi.
Musim ketika tidak ada satu pun hal yang benar-benar membuat dada berdebar, tetapi juga tidak ada alasan untuk mengeluh. Rutinitas tetap dilakukan dengan penuh tanggung jawab, hanya saja tanpa euforia yang biasanya menyertainya.
Dan ternyata, musim seperti ini tidak semenakutkan yang kubayangkan.
Alih-alih terburu-buru mencari percikan baru, ada ketenangan yang pelan-pelan tumbuh ketika kita berhenti menganggap setiap jeda sebagai sebuah masalah.
Mungkin kita memang terlalu sering mengukur hidup dari seberapa tinggi api yang sedang menyala, padahal tidak semua kehidupan membutuhkan kobaran.
Ada kalanya yang dibutuhkan hanyalah bara yang cukup untuk tetap menghangatkan.
Lucunya, renungan ini muncul setelah mendengarkan lagu Teh Hijau dari Tulus.
Bukan karena liriknya memberikan jawaban atas segala pertanyaan, melainkan karena lagu itu terasa seperti secangkir teh hangat: tidak berusaha mengejutkan, tidak pula memaksa emosi meledak-ledak. Ia hanya hadir dengan tenang, dan justru karena itu terasa menenangkan.
Barangkali hidup juga sedang mengajarkan hal yang sama.
Bahwa tidak semua musim harus dipenuhi bunga.
Tidak semua hari harus terasa luar biasa.
Tidak semua perjalanan harus diwarnai oleh gairah yang menggebu-gebu.
Ada masa ketika hidup hanya meminta kita untuk tetap hadir. Tetap bekerja dengan baik. Tetap belajar. Tetap merawat hubungan dengan orang-orang terdekat. Tetap membuka ruang bagi rasa syukur, meski hari-hari terasa biasa saja.
Dan mungkin, justru di musim yang sunyi seperti inilah kita belajar membedakan antara kebahagiaan dan ketenangan.
Kebahagiaan sering datang dalam ledakan-ledakan kecil yang membuat kita berdebar.
Sementara ketenangan, ia hadir jauh lebih pelan. Nyaris tak terdengar. Namun diam-diam membuat kita bertahan.
Aku masih percaya akan datang musim ketika hati kembali dipenuhi rasa penasaran. Akan ada mimpi baru yang membuat langkah terasa ringan. Akan ada orang, tempat, atau gagasan yang kembali menyalakan antusiasme.
Namun sebelum musim itu tiba, rasanya tidak ada yang perlu dikejar dengan tergesa.
Sebab hidup bukan hanya tentang saat-saat ketika kita menyala.
Kadang, ia sedang mengajarkan cara menikmati cahaya yang lebih redup.
Hangatnya tidak membakar.
Tetapi cukup untuk membuat kita tetap pulang.
Seperti segelas teh hijau yang diminum perlahan, tanpa pernah tergesa menghabiskannya.
Komentar
Posting Komentar