Cinta yang tak terbaca
Beberapa hari ini jagad media, portal berita di penuhi oleh berita hilang nya anak sulung kang Emil.
Banyak orang yang ikut khawatir kemudian diam-diam ikut mendoakan, walaupun Kang Emil terlihat tegar, aku yakin dibalik itu ada banyak nya sesak yang dipendam, tangis yang tertahan, ayah mana yang tidak hancur saat anak nya hilang tanpa kabar ?
Pagi ini, tak sengaja membaca postingan dari penulis JS. Khairen, setiap katanya menyentuh mewakili perasaan para ayah yang sulit mengungkapkan cintanya pada anak.
"Tangis paling mengerikan adalah tangis tak bersuara seorang ayah" begitu katanya.
Aaah, yaa entah mungkin memang begitu kodrat nya, tak banyak berkata-kata untuk mengungkapkan rasa cinta, sampai-sampai rasa cintanya tak terbaca.
Ayah akan tetap menjadi cinta pertama untuk anak perempuan nya dan sahabat sejati untuk anak laki-laki nya.
Walaupun aku sudah kehilangan sosok ayah saat masih berumur belasan, mengingat sorot mata nya saat ini mampu untuk mengulang banyak memori dikepala.
Sorot mata yang mewakili banyak rasa, terkadang mewakili rasa khawatir, terkadang mewakili rasa bangga, atau hanya sekadar mewakili rasa syukurnya memiliki kita.
Dalaaam sekali cintanya...
Walaupun tanpa kata, walaupun tanpa bahasa.
Maka, jika boleh aku memberi saran, sesekali ucapkanlah "makasih yaa ayah" walaupun mungkin respon nya akan tetap sama, diam seribu bahasa, tapi kamu tahu? Diam-diam hatinya menghangat bahagia.
_________________________________________
Update : alhamdulillah jenazah sudah ditemukan, semoga Husnul Khatimah, kematian adalah kepastian, semoga bisa menjadi pengingat kita yang seringkali lalai dari peringatan (Aamiin)
Komentar
Posting Komentar