Masih Pentingkah Rasa Cinta (?)

 

Aku menulis  ini dari sudut pandang perempuan yang belum tahu bagaimana sebenarnya pernikahan, komitmen, dan rasa cinta dalam rumah tangga.

Banyaknya kabar sana sini tentang perceraian, perselingkuhan agaknya membuat sebagian dari kita kembali bertanya-tanya, masih adakah laki-laki yang dapat dipercaya? Masih adakah laki-laki yang betul-betul setia?

Entahlah, akupun tak tahu.

Tapi satu hal yang ingin aku percaya, bahwa rasa cinta yang dilandasi karena Allah jelas takkan pernah mengkhianatimu.

Hubungan tanpa dilandasi rasa cinta agaknya akan terasa hambar, rasa cinta tumbuh dari hati, tempat yang bahkan tak ada satupun yang dapat mengendalikannya kecuali yang menciptakannya.

Umi pernah bilang, “dengan siapapun teteh berjodoh nanti, umi selalu berdoa, semoga dengan ia yang mencintai Allah dan Rosulnya, mencintai teteh dan teteh juga mencintainya”  ohh, saat ini aku baru paham do’anya sangat dalam[]

Ustadz Salim A Fillah menulis makna cinta dalam bukunya (“Jalan Cinta Para Pejuang”) begini katanya,

Jika cinta adalah matematika,

Maka yang mencintai kita

Akan mengalikan kebahagiaan sampai tak hingga,

Membagi kesedihan hingga tak berarti ,

Menambah keyakinan hingga utuh,

Mengurang keraguan hingga habis []

Cinta selalu bisa memberi kekuatan bagi seseorang yang rapuh, tapi tak jarang membuat rapuh orang yang tangguh.

Maka, menurutku rasa cinta tetap dibutuhkan dalam suatu hubungan, (pasangan, persahabatan, keluarga) meski begitu kita perlu menyadari kembali bahwa secinta apapun, sesayang apapun, takkan ada yang benar-benar kita miliki. Titipkan rasa itu pada yang menciptakannya.

Komentar

Postingan Populer