Anak-Anak yang Tak Seharusnya Membayar Harga Ketimpangan

Kemarin, setelah visit dan liputan ke salah satu sekolah swasta elit di Bandung, aku merenung dan bergumam lirih, “Ahhh, harus punya berapa dalam tabungan untuk bisa menyekolahkan anak di sekolah yang layak seperti ini?” Ironi.

Di negeri ini, mengapa mendapat pendidikan yang layak harus menjadi suatu kemewahan? Mengapa duduk di bangku sekolah yang mempunyai fasilitas lengkap adalah privilege?

Mendengar angka yang disebut staf humasnya pun aku langsung menelan ludah. Kira-kira, untuk satu anak bersekolah dari playgroup, TK, hingga SD di sana, memerlukan sekurang-kurangnya 100 juta rupiah.

Aku bisa mengerti. Semua biaya yang diperlukan, mulai dari menggaji guru yang dipastikan sesuai kapasitas karena seleksi masuk yang tidak mudah, fasilitas bangunan yang layak, pengembangan skill, hingga helper untuk anak berkebutuhan khusus; psikolog yang selalu stay mendengar permasalahan anak, bahkan guru; day care untuk guru perempuan yang baru melahirkan atau working mom yang tidak bisa meninggalkan anaknya di rumah.

Tapi, yang menjadi masalah adalah: harusnya semua itu bisa dirasakan oleh semua anak di negeri ini.

Aku bahkan tidak bisa membayangkan jika semua fasilitas tersebut bisa diberikan dengan merata untuk semua anak di negeri ini, akan bagaimana jadinya? Mungkin, sekurang-kurangnya, menjadi negara maju tidak hanya menjadi mimpi di siang bolong.

Fasilitas pendidikan yang layak memang tidak serta-merta menjamin bahwa kualitas pendidikan juga langsung menjadi baik. Tapi, setidaknya, kita tidak lagi perlu melihat banyak anak putus sekolah karena tidak mampu, karena akses menuju sekolah yang terlampau jauh, atau bahkan bersekolah dengan keadaan sekolah yang mengkhawatirkan.

Sampai kapan kita harus normal melihat banyak sekolah yang bangunannya tinggal menghitung hari untuk ambruk?

Sampai kapan kita harus normal melihat guru yang digaji hanya dengan 400 ribu rupiah karena alasan mengabdi?

Sampai kapan kita harus normal melihat anak yang berhenti sekolah karena alasan tidak mampu?

Sampai kapan kita harus normal melihat anak yang memutuskan mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan alat tulis yang ia impikan?

Sampai kapan?

Sedang memikirkan hal-hal itu, aku kembali tertegun dan bergumam, badjingan sekali pemerintah negeri ini.

Agaknya, kita terlalu lihai soal bertahan. Kita terlalu murah dalam memaafkan. Kita terlalu pandai memaklumi keadaan tidak ideal di negara ini.

 

Komentar

Postingan Populer