Kali pertama patah hati

 Jalanan menuju sekolah tampak ramai di jam istirahat, bagaimana tidak? Dari ujung jalan hingga gerbang sekolah dipenuhi muda mudi yang sedang berburu jajanan, mereka rela antri demi jajanan kesukaan. 

Tapi itu tak berlaku untukku, Siang hari di ruang kelas yang sepi aku terduduk di lantai sambil menangis sesenggukan, di temani teman sebangku, aku terus menumpahkan perasaan sakit karena patah hati. Yaa, patah hati, yang dalam seumur hidup selama 17 tahun ini baru pertama kali aku rasakan. 

Perlahan suasana kelas mulai semakin ramai, seisi kelas gaduh melihatku menangis, memang rasanya agak mengherankan seseorang seperti aku yang jarang terlihat sedih tiba-tiba menangis seperti kesakitan. 

"kunaon si Ochi ieu? " teriak seorang teman laki-laki sambil tergopoh-gopoh menghampiri, sebagian teman perempuan datang sekadar bertanya dan memelukku meskipun mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

Hari itu, hari pertama aku tahu bagaimana rasanya patah hati. 

"Chi, udah gapapa ikhlasin aja, berarti emang begitu baiknya" ujar Ulma teman sebangku ku sekaligus teman yang rela meminjamkan handphone nya (karena saat itu aku tinggal di pesantren, santri tidak diperbolehkan membawa handphone, maka hp Ulma lah yang sering ku pinjam).

Sebab aku menangis dimulai setelah aku membaca balasan DM dari seseorang yang selama ini sudah aku titipkan banyak harapan. 

"Maaf yaa, tapi aku rasa sekarang aku udah ga layak untuk kamu, aku yakin banyak bahkan sangat banyak laki-laki yang lebih layak untuk dicintai seseorang seperti kamu" aku kira percakapan seperti ini hanya ada dalam novel, tapi nyatanya tidak, aku mendapatkan percakapan ini dari seseorang yang dahulu berjanji akan terus membersamai. 

Aaah, yaa memang terdengar klise. Tapi dulu di momen itu aku merasakan hati aku sakit sekali, karena aku tahu alasan itu mungkin hanya sebagai kata-kata balasan saja, toh yang sebenarnya adalah dia sudah memilih orang lain. 

Beberapa dari kalian mungkin menganggap ini terlalu lebay, yaa jika dipikir sekarang akupun merasa itu terlalu berlebihan, buat apa aku menangisi orang yang bahkan bukan siapa-siapa. 

Tapi, percayalah, sakitnya patah hati itu nyata adanya, sebagian dari kalian yang sedang membaca ini mungkin pernah merasakan atau sedang merasakan. 

Ketika sudah jatuh cinta terlalu dalam memang harus bersiap untuk kecewa yang tak kalah dalam. 

Setelah mendapatkan balasan itu, aku merutuki diri sendiri, sibuk bertanya "apa salah aku?" "apa yang kurang dari aku?" aku merasa memang kurang layak untuk merasa dicintai oleh orang lain. 

Tapi kini aku sadar, justru dengan merasakan patah hati seharusnya menjadi momen untuk kita (khususnya perempuan) belajar lebih mencintai diri sendiri, barangkali memang saat kemarin jatuh cinta, kita menjadi lupa bagaimana cara mencintai diri kita sendiri, barangkali memang saat kemarin jatuh cinta kita sudah lama mengabaikan perasaan kita sendiri. 

Tidak ada hati yang ingin patah, kecuali pemiliknya yang meminta. 

Jadi, aku merasakan patah hati kala itu sebenarnya adalah keputusan aku saat aku memutuskan untuk akhirnya jatuh cinta.  

_________________________________________

Ceritanya berlanjut ke part setelah ini yaa, biar ga terlalu capek bacanya :")

Komentar

Postingan Populer