Ummu Salamah ra, seorang feminis?

 Topik kesetaraan gender sepertinya semakin menjadi topik yang tidak pernah tidak seru jika dibahas, bagaimana tidak? Topik ini seringkali menjadi bahasan pemicu perdebatan. 

Seringkali aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang benar-benar 'mereka' perjuangkan? Betulkah sedang memperjuangkan hak-hak perempuan? Betulkah sedang mewakili suara para perempuan? 

Tapi terkadang aku juga termenung, apa iya  sebegitu merasa tertindasnya menjadi seorang perempuan? Apa iya sebegitu tidak untungnya menjadi seorang perempuan? 

Kamu tahu tidak? Ternyata protes tentang "kesetaraan" ini sudah ada sejak zaman Nabi. Yaa! Ummu Salamah sudah lebih dahulu meneriakkan keluh kesahnya. 

Berawal dari merasa bimbangnya Ummu Salamah tentang Islam, apakah benar islam telah menjamin kesetaraan bagi kaumnya? 

Kemudian Ia langsung menanyakannya kepada Rasulullah.

Begini katanya,

Dari Ummu Salamah ra, "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, 'mengapa kami (kaum perempuan) tidak disebutkan (keutamaannya) dalam Al-Quran sebagaimana kaum laki-laki?' Rasulullah SAW tidak segera menjawab. Namun, pada waktu yang lain, Aku (Ummu Salamah) melihat beliau berdiri diatas mimbar. Ketika itu, aku sedang menyisir rambut. Setelah selesai menggulung rambut, aku masuk ke salah satu kamar di rumahku. Kupasang pendengaranku di dekat atap masjid yang ketika itu masih terbuat dari pelepah kurma, dan posisinya dekat dengan mimbar masjid. Aku dengar Nabi mengatakan, 

" Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (Qs: Al-Ahzab [33] : 35) (HR. Ahmad, Al-Nasa'i. Sahih berdasarkan kriteria Imam Bukhari dan Muslim) 

Maka setelah membaca riwayat diatas, jika masih ada seorang muslimah yang mengaku 'feminism' dan mengklaim bahwa islam juga membutuhkan feminis, sungguh sangat tidak relevan. 

Islam menjadikan kadar takwa sebagai landasan dasar bahwa islam tidak pernah membeda-bedakan kaum laki-laki dan perempuan, karena aturan Tuhan yang menegaskan bahwa pembedaan derajat manusia hanya dinilai berdasarkan takwa.

Bukan berdasarkan rupa; good looking atau tidak, bukan berdasarkan harta; sultan atau bukan, bukan pula berdasarkan pangkat; presiden, ketua dpr, anggota partai semua sama, bukan juga popularitas; selebgram atau bukan, udah centang biru atau belum, apalagi jenis kelamin.

Tetapi, dilihat dari bagaimana kadar iman, tingkat takwa, serta tinggi atau rendahnya ketakutan kita pada sang maha pencipta.

Insp. Buku "Be Amazing Muslimah" (Ahmad Rifa'i Rif'an).

Ditulis di Masjid Al-Fatwa 21 Ramadhan 1444H


Komentar

Postingan Populer