Memenangkan Cinta dari Sejumput Cemburu Semu.

 Bagaimana rasanya ditinggal oleh suami tercinta sesaat setelah melahirkan buah hati yang padahal sudah di nanti berpuluh tahun lamanya?

Sesak, sedih, kecewa,  marah, semua bercampur menjadi satu, itulah yang dirasakan Ibunda Hajar saat Nabi Ibrahim meninggalkannya bersama buah hatinya (Ismail) di sebuah lembah kosong, gersang, terik, liar, dan tak berpenghuni.

 Bagaimana tidak? Ia sudah menempuh perjalanan yang jauh tanpa tahu akan kemana, dan sesaat setelah tiba di tempat yang ia pun tak tahu dimana, suaminya meninggalkannya, tanpa sepatah kata.

Suami shalih nya itu perlahan melangkahkan kaki ke utara menjauh dari istri tercinta dan putra tersayangnya dengan mata yang berkaca-kaca.

 Ibunda Hajar tergopoh-gopoh mengejar mencoba menyusul, berlari kecil hingga bayi yang ada dalam gendongannya ikut terguncang-guncang

 "Mengapa kau tinggalkan kami hai Ibrahim?" tanya Ibunda Hajar, meskipun kelu ia tetap melontarkan tanyanya, siapa yang bisa menebak kalau-kalau itu adalah kali terakhir ia dapat menemukan jawaban.

Tapi sayang, sang suami tetap diam seribu bahasa, ia hanya menghela nafas sambil menahan tangis dalam diam.

 Ibunda Hajar mengulangi pertanyaannya, untuk kedua dan ketiga kalinya, Tapi Sang suami tetap tak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya bisa kembali menghentikan langkahnya sambil sedikit menyerong menghindar dari isterinya yang menghadang.

Kali ini, Sang suami terdiam cukup lama sambil terus merenungi kegelisahan dalam dirinya, ia yang menghabiskan malam-malam panjangnya dengan do'a, sesekali memohon dengan tangis agar dihadirkan tangis kecil yang memecah heningnya malam, hingga akhirnya Allah beri Ismail sebagai pelengkap hidupnya.

Tapi kini, tiba-tiba Allah memintanya untuk meninggalkan sang buah hati dan ibunya di lembah yang tak berpenghuni, ia akan kembali merasakan sepi bahkan khawatir yang tak bertepi.

Tapi, apa daya seorang hamba? Tak pantas rasanya jika harus berprasangka yang tidak semestinya padaNya. 

Karena yaa, ini adalah perintah Allah dan ia ridha atasNya. Meski ia tak sanggup menjawab tanya isteri tercinta.

Roboh sudah pertahanannya, tangis nya pecah. Hatinya gerimis.

 "Apakah ini perintah Allah?" akhirnya Hajar mengubah pertanyaannya.

Ibrahim terhenyak. Ia  berhenti sejenak, lalu berbalik. Tatapan mereka bertemu, kedua tangannya memegang lengan sang isteri,

"Ya", ujarnya sambil menghela nafas panjang nan berat. " Ini perintah Allah." 

Sedetik, dua detik hening menyelimuti. Mereka berpelukan. Sang isteri berbisik lembut ditelinga suaminya "Kalau ini perintah Allah, Dia sekali-kali takkan pernah menyia-nyiakan kami."

Komentar

Postingan Populer