Semoga

 Semakin bertambah usia, kita semakin khatam atas rasa kecewa, dan pada akhirnya kita mulai hindari hal-hal yang membuat luka, karena berkali-kali merasa terluka atas kecewa yang mendera kita takkan pernah terbiasa, luka tetaplah menjadi luka bagaimanapun bentuknya. 

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk meredam perasaan yang tak pernah kita bayangkan bahkan tak kita undang sama sekali ini? Entah, sejujurnya kita tak pernah benar-benar memikirkan itu.

Karena, pada dasarnya, saat kita memutuskan untuk menaruh hati pada seseorang, hanya akan ada 2 kemungkinan yang harus kita hadapi, kemungkinan pertama adalah seseorang itu menaruh perasaan yang sama pada kita, kemungkinan kedua adalah seseorang itu menaruh perasaan yang sama, tapi ternyata bukan kita orangnya. 

Kemungkinan mana yang akhirnya menjadi takdir kita? kita tak pernah tau atau belum tau, atau juga menolak untuk tau. 

Tapi tetap, sedikit banyak boleh saja berharap, asal selalu selipkan 'semoga' didalamnya, dan jika ternyata 'semoga' itu tak berbalas, biarlah, karena pada saat yang bersamaan kita sedang menunggu 'semoga' yang entah berasal dari siapa. 

Jadi, tak usah khawatir, jika 'semoga' kita tak sampai padanya, kita akan menerima 'semoga' dari tuan atau puan yang mungkin lebih kerap dan lebih kencang memintanya. 

Pada akhirnya, kita hanya sedang menunggu takdir, jika takdir itu tak sesuai rencana kita maka akan berjalan sesuai rencanaNya. 

Tapi, kenapa rasanya kita tetap banyak khawatirnya ya? padahal, logikanya, jika kita sudah percayakan hidup pada pemiliknya, kita takkan pernah merasa khawatir atas takdir yang sudah disiapkan bukan? kita semua tahu, bukan saja hanya perihal jodoh, rezeki, bahkan kematian sekalipun, semua sudah ada garis takdirnya. 

Maka, tuan puan, izinkan aku berkata "Tak usah lagi khawatir berlebih, yang memang untuk kita akan menghampiri kita bagaimanapun caranya". Bebaskan rasamu, mintalah yang terbaik bukan hanya menurut kita tapi juga menurut pemilik semesta. 

Komentar

Postingan Populer