Seporsi Kekalahan Menjadi WNI Seumur Hidup
Menjadi WNI akhir-akhir ini rasanya seperti menerima seporsi kekalahan setiap hari.
Tidak selalu dalam bentuk yang besar.
Kadang hanya berita pagi tentang kebijakan yang membingungkan. Kadang pernyataan pejabat yang terasa jauh dari realitas yang dihadapi masyarakat. Kadang kasus yang berulang dengan pola yang sama: publik marah, media ramai, klarifikasi dikeluarkan, lalu perlahan tenggelam oleh isu berikutnya sebelum benar-benar mendapatkan penyelesaian.
Kita kalah sedikit demi sedikit; Kalah karena harapan yang tidak dipenuhi. Kalah karena akal sehat yang berkali-kali diuji. Kalah karena begitu banyak hal yang dahulu terasa mustahil, kini perlahan dianggap biasa hanya karena terlalu sering terjadi.
Beberapa tahun lalu, sebuah kasus besar mungkin masih mampu membuat publik membicarakannya selama berbulan-bulan. Hari ini, bahkan satu minggu terasa terlalu lama. Linimasa bergerak cepat. Kemarahan datang silih berganti. Satu isu menimpa isu lain sebelum kita sempat mencerna yang pertama.
Akibatnya, bukan hanya masalah yang menumpuk. Kelelahan juga ikut menumpuk.
Dan jujur saja, saya memahami mengapa semakin banyak orang memilih mengambil jarak, mematikan notifikasi berita, menghindari diskusi politik, melewati unggahan yang membahas kebijakan publik. Fokus pada kehidupan masing-masing.
Bukankah hidup sudah cukup sulit tanpa perlu ditambah kemarahan dari urusan negara?
Titik ketika membuka media sosial terasa seperti membuka daftar panjang hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ketika setiap berita baru terasa seperti pengingat bahwa masalah yang kemarin belum selesai, sementara masalah baru sudah datang lagi.
Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu sering peduli.
Namun semakin lama saya berpikir, semakin saya menyadari bahwa yang berbahaya bukanlah banyaknya berita buruk.
Yang berbahaya adalah ketika berita buruk tidak lagi membuat kita merasa ada yang salah.
Ketika korupsi hanya menjadi bahan candaan, konflik kepentingan dianggap lumrah, janji politik yang tidak ditepati diterima sebagai sesuatu yang memang sudah biasa, ketika masyarakat lebih terkejut oleh artis yang bercerai daripada kebijakan yang berdampak pada jutaan orang.
Mungkin inilah kemenangan terbesar yang bisa diperoleh kekuasaan yang tidak sehat: bukan ketika rakyat mendukungnya, melainkan ketika rakyat berhenti memperhatikannya.
Karena dalam demokrasi, pengawasan publik bukan pelengkap. Ia adalah salah satu fondasi.
Negara memang memiliki lembaga pengawas. Ada parlemen, media, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai instrumen lainnya. Namun pada akhirnya, semua itu tetap membutuhkan satu hal yang sama: warga negara yang peduli.
Bukan warga negara yang selalu marah, bukan pula warga negara yang harus turun ke jalan setiap pekan. Tetapi warga negara yang tetap menjaga kesadarannya, yang tetap bertanya, tetap membaca, tetap mengikuti, tetap mengingat.
Sebab keputusan yang dibuat di ruang kekuasaan tidak pernah benar-benar berhenti di sana.
Ia akan sampai ke meja makan kita, ke uang kuliah yang harus dibayar mahasiswa, harga kebutuhan pokok yang dibeli para ibu, lapangan pekerjaan yang dicari anak-anak muda, kualitas pendidikan yang diterima generasi berikutnya, masa depan yang sedang kita persiapkan hari ini.
Barangkali itulah mengapa saya tidak pernah benar-benar setuju dengan kalimat, "Tidak usah terlalu memikirkan politik."
Karena politik akan tetap memikirkan kita.
Ia hadir dalam bentuk pajak yang kita bayarkan, regulasi yang kita patuhi, fasilitas publik yang kita gunakan, hingga kesempatan hidup yang kita miliki.
Jika masyarakat yang masih memiliki kesadaran memilih diam karena lelah, maka ruang publik akan semakin dipenuhi oleh mereka yang tidak peduli pada kepentingan publik.
Mungkin benar, menjadi WNI kadang terasa seperti menerima seporsi kekalahan.
Hari ini kalah oleh kebijakan yang tidak berpihak, besok kalah oleh janji yang tidak ditepati, lusa kalah oleh kenyataan bahwa banyak persoalan diselesaikan dengan pencitraan alih-alih perubahan.
Namun saya percaya, kekalahan-kekalahan kecil itu tidak boleh berubah menjadi ketidakpedulian yang permanen.
Karena negara tidak hanya dibangun oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Negara juga dipertahankan oleh warga biasa yang memilih untuk tetap peduli, bahkan ketika mereka sedang lelah.
Dan mungkin, di tengah begitu banyak alasan untuk menyerah, memilih tetap peduli adalah bentuk perlawanan yang paling sederhana sekaligus paling penting yang bisa kita lakukan hari ini. (**)
Lagi lagi elus dada.
BalasHapus