Tentang Anak-Anak Hari Ini dan Cara Kita Menemui Mereka
Belakangan ini, aku cukup sering mendengar kegelisahan yang sama di berbagai ruang pembinaan, organisasi, maupun komunitas. Tentang anak-anak hari ini yang dianggap semakin sulit diajak bergerak, semakin sulit berkomitmen, dan semakin sulit bertahan dalam sebuah proses yang panjang.
Sebagian mengaitkannya dengan karakter generasi. Sebagian lagi menyalahkan perkembangan teknologi dan media sosial. Ada yang mengatakan anak-anak hari ini terlalu nyaman, terlalu banyak pilihan, atau terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Aku tidak sepenuhnya menolak pandangan-pandangan itu. Memang ada banyak hal yang berubah. Dunia tempat generasi hari ini bertumbuh jauh berbeda dibanding dunia yang pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Namun sebagai seseorang yang bertumbuh dalam sebuah wadah pembinaan, lalu diberi kesempatan untuk membersamai generasi setelahku, aku sering kali merasa bahwa pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa mereka berbeda.
Melainkan mengapa kita berharap mereka tetap sama.
Sebab sepanjang sejarah, setiap generasi selalu lahir dengan tantangannya sendiri. Tidak ada generasi yang tumbuh dalam kondisi sosial, teknologi, dan budaya yang benar-benar identik dengan generasi sebelumnya. Maka wajar jika cara mereka memandang kehidupan, mengambil keputusan, dan memaknai keterlibatan dalam sebuah gerakan pun ikut berubah.
Hari ini seorang anak muda tidak hanya berhadapan dengan pilihan untuk aktif atau tidak aktif dalam organisasi. Ia berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan kemungkinan hidup yang terbentang di hadapannya. Ia bisa menjadi aktivis, membangun bisnis, mengejar karier profesional, menjadi kreator konten, melanjutkan studi ke luar negeri, atau memilih jalan hidup yang sama sekali berbeda. Semua pilihan itu hadir bersamaan di layar ponselnya setiap hari.
Karena itu, proses perekrutan dan kaderisasi hari ini tidak lagi sekadar bersaing dengan organisasi lain. Ia bersaing dengan seluruh alternatif kehidupan yang tersedia di hadapan seorang anak muda.
Mungkin karena itulah banyak anak hari ini membutuhkan alasan yang lebih kuat sebelum memutuskan untuk terlibat. Mereka tidak sekadar bertanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu perlu dilakukan. Mereka tidak hanya ingin tahu agenda berikutnya, tetapi juga ingin memahami makna di balik agenda tersebut.
Di sisi lain, kita juga sedang hidup di zaman ketika sumber otoritas berubah. Jika dahulu guru, senior, atau pembina menjadi salah satu sumber utama pengetahuan, hari ini setiap orang memiliki akses terhadap begitu banyak informasi hanya melalui telepon genggam di tangannya. Mereka bisa mendengar puluhan narasumber dalam sehari, membaca berbagai sudut pandang, dan membandingkan satu gagasan dengan gagasan lainnya dalam hitungan menit.
Akibatnya, penghormatan tidak lagi lahir semata-mata karena usia, jabatan, atau posisi struktural. Ia lahir dari kapasitas, keteladanan, integritas, dan kemampuan membangun kedekatan yang tulus. Ini bukan sesuatu yang buruk, tetapi sebuah realitas yang perlu dipahami.
Mungkin karena itu pula sebagian dari kita merasa bahwa anak-anak hari ini terlalu banyak bertanya. Padahal bisa jadi mereka tidak sedang membantah. Mereka hanya sedang berusaha memastikan bahwa jalan yang akan mereka tempuh benar-benar layak untuk diperjuangkan.
Dan jika dipikir-pikir, bukankah kita pun pernah berada di posisi yang sama?
Aku sering teringat bahwa jika hari ini aku masih menemukan makna dalam pembinaan, masih percaya pada pentingnya dakwah, dan masih memilih untuk bertahan sebagai aktivis, semua itu tidak terjadi dalam satu malam. Ada proses panjang yang membentuknya. Ada orang-orang yang sabar menjawab pertanyaanku. Ada orang-orang yang tidak menyerah ketika aku ragu. Ada orang-orang yang memilih memahami sebelum menghakimi.
Karena itu, setiap kali mendengar keluhan tentang anak-anak hari ini, aku justru teringat pada generasi sebelumku yang dulu memilih untuk tetap membersamai anak-anak yang mungkin juga dianggap berbeda pada zamannya.
Barangkali setiap generasi memang akan selalu tampak asing bagi generasi sebelumnya.
Karena itu, kadang aku merasa tantangan terbesar organisasi, komunitas, gerakan dakwah, bahkan dunia pendidikan hari ini bukanlah menghadapi anak-anak yang berubah.
Melainkan keberanian untuk mengevaluasi cara-cara lama yang mungkin sudah tidak lagi mampu menjangkau mereka.
Bukan berarti nilai-nilainya yang berubah. Bukan pula berarti prinsip-prinsip yang selama ini diyakini harus ditinggalkan.
Yang perlu dipikirkan ulang mungkin hanya satu hal sederhana: bagaimana cara menemui manusia yang hidup di zaman yang berbeda.
Sebab sepanjang sejarah, manusia memang selalu berubah. Yang membuat sebuah gerakan tetap hidup bukan kemampuannya mempertahankan metode lama, melainkan kemampuannya menjaga nilai sambil terus menemukan cara baru untuk menjangkaunya.
Dan mungkin itulah yang sedang kita hadapi hari ini. Bukan krisis generasi.
Melainkan tuntutan untuk belajar kembali memahami generasi yang sedang kita temui. (**)
Komentar
Posting Komentar