Aku Kehilangan Ibu ketika Belum Selesai Menjadi Anaknya
Semakin dewasa, semakin sering aku menemukan ibu di dalam diriku sendiri: bukan wajahnya, bukan suaranya. Tetapi hal-hal kecil yang dahulu tidak pernah kusadari sedang ia wariskan kepadaku.
Cara aku mengkhawatirkan seseorang ketika mereka belum memberi kabar. Cara aku mengingatkan orang untuk membawa payung ketika langit mulai mendung. Cara aku melihat sesuatu di sebuah toko lalu tiba-tiba berpikir, “Kayaknya dia suka ini.” Cara aku merasa tidak tenang sebelum memastikan orang yang kusayangi sudah sampai rumah.
Dulu,
aku mungkin akan menganggap semua itu sebagai bagian biasa dari hidup. Sekarang
aku tahu, barangkali sebagian dari diriku sedang mengulang cara ibu
mencintaiku.
Dan
ada sesuatu yang menyakitkan dari kesadaran itu:
aku
baru mulai mengerti ibu setelah aku tidak lagi bisa bertanya kepadanya.
Ada
jenis kedewasaan yang datang terlambat. Kita akhirnya memahami mengapa
seseorang begitu sering mengingatkan, mengapa ia begitu mudah khawatir, mengapa
ia menyimpan banyak hal untuk dirinya sendiri, mengapa ia rela melakukan
sesuatu yang bahkan tidak pernah kita minta.
Tetapi
ketika pengertian itu datang, orangnya sudah tidak ada. Yang tersisa hanya
kalimat-kalimat yang pernah ia ucapkan, kebiasaan-kebiasaan kecil yang masih
melekat, dan ingatan yang kadang muncul tanpa permisi.
Lalu
kita hanya bisa berkata dalam hati,
“Bu,
sekarang aku mengerti.”
Padahal
dahulu, mungkin kita hanya ingin cepat-cepat tumbuh agar tidak lagi terlalu
sering mendengar nasihatnya.
Lucu
ya.
Kita
menghabiskan masa kecil dengan ingin menjadi dewasa. Lalu ketika dewasa
benar-benar datang, kita justru ingin kembali sebentar saja menjadi anak-anak.
Bukan
untuk mengulang semuanya. Hanya untuk mendapatkan satu sore lagi. Satu
percakapan lagi. Satu perjalanan lagi.
Satu
kesempatan untuk duduk di dekatnya sambil melakukan hal-hal yang dulu terasa
terlalu biasa untuk dikenang.
Sebab setelah kehilangan, kita belajar bahwa ternyata yang paling kita rindukan bukan selalu peristiwa besar, kadang justru hal-hal yang dahulu tidak kita anggap sebagai apa-apa: suara seseorang dari ruangan lain, pertanyaan sederhana tentang sudah makan atau belum, seseorang yang mengingatkan kita membawa sesuatu sebelum pergi, atau suara pintu yang terbuka ketika kita pulang.
Dulu
semuanya terasa seperti bagian dari rumah, sekarang semuanya adalah arsip.
Itu
mungkin salah satu bagian paling sulit dari kehilangan. Sebab ketika seseorang
pergi di usia kita yang masih muda, kita tidak hanya kehilangan dirinya, kita
juga kehilangan kemungkinan-kemungkinan.
Ada begitu banyak versi diriku yang tidak pernah sempat ia kenal. Versi diriku ketika mulai bekerja, ketika mulai menulis, ketika memimpin sesuatu, ketika membina orang lain, ketika mulai memikirkan pernikahan, ketika mulai bertanya tentang rumah seperti apa yang ingin kubangun, ketika mulai membayangkan apakah suatu hari nanti aku akan menjadi seorang ibu.
Ada
begitu banyak hal yang tumbuh di dalam diriku setelah ia pergi, dan terkadang
aku ingin sekali menunjukkan semuanya kepadanya, seperti seorang anak yang
pulang membawa hasil ujian dan ingin menunjukkan nilainya kepada ibu.
Hanya
saja, kali ini aku tidak tahu harus pulang ke mana.
Ada begitu banyak hal tentang menjadi perempuan yang ingin kutanyakan kepadanya: tentang bagaimana rasanya menjadi istri, tentang bagaimana rasanya menjadi ibu, tentang bagaimana seseorang membagi dirinya antara rumah, pekerjaan, anak-anak, dan dirinya sendiri, tentang bagaimana mencintai seseorang tanpa kehilangan diri sendiri, tentang bagaimana menjadi kuat tanpa harus selalu terlihat kuat, tentang bagaimana menghadapi hari-hari ketika hidup tidak berjalan seperti yang direncanakan, tentang bagaimana memaafkan, tentang bagaimana bertahan, tentang bagaimana menerima bahwa anak-anak yang dahulu selalu berada di rumah suatu hari akan tumbuh, pergi, dan memiliki kehidupannya sendiri.
Ada
begitu banyak pertanyaan. Dan mungkin yang paling menyedihkan bukan karena aku
tidak punya jawabannya. Tetapi karena aku tidak lagi punya orang yang paling
ingin kutanya.
Kadang aku berpikir tentang kemungkinan menjadi ibu. Dan jujur, terkadang aku takut.
Bukan
karena aku tidak ingin punya anak, justru karena aku tahu betapa besarnya cinta
yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.
Aku
takut tidak cukup baik.
Takut
tidak tahu harus bagaimana ketika anakku sakit, takut salah mengatakan sesuatu
yang kelak tinggal terlalu lama di kepalanya, takut tidak mampu menjadi tempat
pulang yang cukup hangat, takut suatu hari anakku tumbuh dan merasa bahwa aku
tidak pernah cukup memahami dirinya.
Mungkin
menjadi ibu memang bukan hanya tentang melahirkan seorang manusia, mungkin
menjadi ibu adalah tentang menjadi langit bagi seseorang yang suatu hari akan
belajar terbang meninggalkanmu.
Dan
entah bagaimana, seorang ibu harus belajar mencintai anaknya dengan cukup dalam
untuk menjaganya, sekaligus cukup lapang untuk membiarkannya pergi.
Aku
tidak tahu apakah aku sudah siap untuk semua itu.
Bahkan
mungkin belum. Sebab aku sendiri masih belajar menjadi anak dari seorang ibu
yang sudah tidak ada.
Tetapi
semakin kupikirkan, semakin aku sadar: mungkin tidak ada orang yang benar-benar
siap menjadi ibu. Mungkin kita hanya tumbuh bersamanya. Belajar sambil
berjalan. Belajar mencintai seseorang yang tidak pernah datang bersama buku
petunjuk.
Dan
mungkin, ketika waktunya tiba, aku akan belajar menjadi ibu dengan membawa
semua yang pernah ibuku ajarkan kepadaku—termasuk hal-hal yang tidak pernah ia
ajarkan dengan kata-kata.
Sebab
ibu ternyata tidak hanya meninggalkan kenangan.
Ia
meninggalkan cara: cara memandang dunia, cara memperhatikan orang, cara
menyayangi seseorang tanpa banyak suara, cara memberikan sesuatu tanpa perlu
menjelaskan berapa banyak yang sudah dikorbankan, cara memastikan orang yang
kita cintai baik-baik saja bahkan ketika mereka tidak tahu bahwa kita sedang
mengkhawatirkannya.
Mungkin
dulu aku hanya melihat hasilnya, sekarang, ketika sudah dewasa, aku mulai
membayangkan proses di belakangnya.
Aku
melihat sesuatu yang dahulu diberikan begitu saja, lalu bertanya:
berapa
banyak yang harus ibu tahan agar aku bisa mendapatkannya?
Aku
melihat keputusan-keputusan kecil yang dahulu terasa biasa, lalu menyadari:
ternyata
ada seseorang yang memikirkan hidupku jauh lebih serius daripada yang pernah
kusadari.
Dan
mungkin memang begitu cara seorang anak mengenal ibunya.
Pertama,
ia hanya mengenal tangan yang menggendongnya, kemudian ia mengenal suara yang
memanggil Namanya, lalu ia tumbuh dan mulai mengenal pengorbanan di balik
tangan itu, kekhawatiran di balik suara itu, dan akhirnya, ia sampai pada satu
titik ketika ia sadar:
ibunya
juga manusia.
Ia
juga pernah takut. Ia juga pernah lelah. Ia juga pernah bingung. Ia juga pernah
memiliki mimpi yang mungkin harus diletakkan di belakang kebutuhan
anak-anaknya.
Dan
mungkin, di situlah cinta kepada ibu berubah: dari sekadar rasa sayang seorang
anak, menjadi rasa kagum kepada seorang perempuan.
Ada
hari-hari ketika aku masih merasa sangat kecil di hadapan kehilangan ini. Ada
hari ketika aku baik-baik saja. Ada hari ketika aku bisa bercerita tentang ibu
sambil tertawa.
Lalu
ada hari ketika sesuatu yang sangat sederhana tiba-tiba membuat dadaku sesak.
Seorang
perempuan berjalan bersama ibunya, sebuah suara yang sekilas terdengar mirip, sebuah
makanan yang mengingatkanku pada rumah, atau sekadar keinginan spontan untuk
menelepon seseorang, sebelum aku ingat bahwa nomor itu sudah tidak lagi
memiliki siapa-siapa di ujungnya.
Kehilangan
rupanya tidak selalu datang sebagai kesedihan, kadang ia datang sebagai
kebiasaan yang kehilangan tempat.
Sebagai
refleks, sebagai kalimat yang hampir terucap, sebagai seseorang yang ingin kita
ceritakan sesuatu kepadanya, lalu kita ingat bahwa ia sudah menjadi bagian dari
masa lalu, dan mungkin begitulah orang-orang yang kita cintai tetap tinggal.
Bukan
dalam bentuk yang sama. Tetapi dalam cara yang baru.
Aku
sering bertanya,
apakah
ibu tahu bahwa aku akan menjadi seperti ini?
Apakah ia pernah membayangkan anak perempuannya akan tumbuh menjadi seseorang yang suka menulis? Apakah ia pernah membayangkan semua hal yang sedang kujalani sekarang? Apakah ia akan bangga? Apakah ia akan mengomel? Apakah ia akan mengatakan sesuatu yang membuatku kesal, lalu beberapa jam kemudian justru membuatku tersenyum sendiri?
Aku tidak tahu. Dan mungkin aku tidak akan pernah tahu.
Tetapi
aku ingin percaya bahwa ada sebagian dari dirinya yang tetap hidup dalam
diriku. Bukan secara harfiah.
Tetapi
melalui cara aku mencintai, melalui nilai-nilai yang ia tanamkan, melalui
keberanian yang mungkin dahulu tidak kusadari ia ajarkan, melalui caraku
melihat perempuan lain, melalui caraku ingin membangun rumah, melalui caraku
membayangkan menjadi seorang ibu.
Mungkin itu sebabnya sekarang aku tidak lagi ingin bertanya,
“Bagaimana
caranya menjadi seperti ibu?”
Aku
hanya ingin bertanya,
“Apa
yang ingin terus hidup darinya melalui aku?”
Mungkin
jawabannya tidak perlu selalu besar.
Mungkin
cukup cara ia membuat rumah terasa seperti tempat pulang.
Cara ia menyisihkan sesuatu untuk anaknya. Cara ia mengingat hal-hal kecil. Cara ia mencintai tanpa banyak perhitungan. Cara ia tetap memberikan sesuatu meski dirinya sendiri mungkin sedang kekurangan.
Dan kalau suatu hari nanti aku memiliki anak, mungkin aku akan melakukan hal-hal yang dahulu dilakukan ibu.
Mungkin aku akan mengingatkan anakku membawa payung, mungkin aku akan bertanya sudah makan atau belum, mungkin aku akan menunggu di rumah lebih lama dari yang seharusnya karena anakku belum pulang, mungkin anakku akan merasa aku terlalu khawatir, mungkin suatu hari ia akan menganggap semua itu mengganggu.
Dan aku mungkin akan tertawa kecil, karena akhirnya aku mengerti.
Barangkali menjadi dewasa memang seperti itu, kita terus menemukan orang tua kita di dalam diri sendiri, sedikit demi sedikit. Dalam cara kita berbicara, dalam cara kita mencintai, dalam cara kita mengkhawatirkan seseorang, dalam cara kita membangun rumah, dalam cara kita memandang dunia.
Dan
mungkin, suatu hari nanti, ketika seorang anak memanggilku Ibu, aku akan
mengerti lebih banyak hal yang hari ini masih menjadi teka-teki.
Mungkin
aku akan berdiri di sebuah kamar, memandangi seorang manusia kecil yang seluruh
dunianya masih bergantung kepadaku, lalu tiba-tiba teringat pada perempuan yang
dahulu melakukan hal yang sama kepadaku.
Mungkin saat itu aku akan mengerti mengapa ia begitu takut, mengapa ia begitu khawatir, mengapa ia begitu sering mengingatkan, mengapa ia memberikan begitu banyak hal tanpa pernah menghitungnya sebagai pengorbanan.
Dan
mungkin, saat itu aku akhirnya akan berkata:
“Bu,
sekarang aku benar-benar mengerti.”
Hanya saja kali ini, tidak ada lagi jawaban dari seberang, maka biarlah kalimat itu menjadi doa.
Semoga sampai kapan pun aku hidup, ada sedikit dari cara ibu mencintaiku yang berhasil kubawa ke dunia, semoga ada sedikit dari kelembutannya yang tumbuh melalui tanganku, sedikit dari keberaniannya yang menetap di dadaku, sedikit dari doanya yang terus berjalan bersamaku.
Sebab mungkin, ibu memang sudah tidak bisa lagi berjalan di sampingku, tetapi ia meninggalkan begitu banyak jalan di dalam diriku. Dan aku akan terus berjalan di atasnya, pelan-pelan.
Sampai suatu hari nanti aku menemukan diriku sendiri berdiri di hadapan anakku, dan menyadari bahwa perempuan yang selama ini kurindukan ternyata tidak sepenuhnya pergi.
Ia
hanya berubah bentuk.
Menjadi caraku mencintai, menjadi caraku pulang, menjadi bagian dari perempuan yang akhirnya tumbuh setelah ia pergi.
Dan
mungkin, itulah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk terus menjadi
anaknya:
hidup
dengan baik, mencintai dengan baik, dan membawa namanya dalam setiap kebaikan
yang sempat kutanam.
Komentar
Posting Komentar