Tanah Air yang Masih Kami Cintai

 Tanah air,

kami masih menyebut namamu dengan suara yang sama seperti ketika kecil dahulu kami belajar mencintaimu dari peta yang digantung di dinding kelas, dari upacara hari Senin, dari merah putih yang berkibar di atas kepala.

Kami kira, mencintai negeri adalah perkara sederhana:

menyanyikan lagu kebangsaan, menghafal nama-nama pahlawan, berdiri tegak ketika bendera dinaikkan, lalu pulang membawa keyakinan bahwa suatu hari tanah ini akan menjadi rumah yang layak bagi semua penghuninya.

Ternyata kami tumbuh dan menemukan bahwa mencintai tanah air kadang berarti menyaksikan rumah sendiri kebanjiran, sementara orang-orang di dalamnya sibuk berdebat siapa yang paling pantas memegang ember.

Kami melihat bumi berguncang dan menyaksikan rumah-rumah kehilangan bentuknya;

di Nusa Tenggara,
tanah kembali mengingatkan manusia bahwa ia juga bisa berduka.

di Flores,
orang-orang kembali menghitung kehilangan dengan tangan yang gemetar.

di Aceh,
duka bahkan belum sempat mengering ketika dunia sudah sibuk mencari berita berikutnya.

dan kami bertanya,

berapa lama sebuah luka harus menunggu sebelum dianggap cukup penting untuk disembuhkan?

sementara dari gedung-gedung tinggi, kami mendengar lagi kabar tentang angka-angka yang berpindah tangan lebih cepat daripada bantuan sampai kepada mereka yang sedang membutuhkan.

Korupsi datang seperti musim yang tidak pernah benar-benar berganti.

Hari ini satu nama. Besok nama lain. Lusa kita kembali terkejut seolah-olah negeri ini baru saja menemukan bahwa kekuasaan bisa disalahgunakan.

Kami mulai lelah terkejut.

Bukan karena kami sudah terbiasa dengan ketidakadilan, tetapi karena terlalu sering ketidakadilan datang dengan pakaian yang berbeda namun wajah yang sama. Sementara di bawah sana, kemiskinan tumbuh seperti akar yang dibiarkan menembus lantai rumah.

pelan-pelan.

diam-diam.

sistematis.

dan entah mengapa selalu rakyat kecil yang diminta bersabar ketika meja-meja kekuasaan sedang sibuk menyusun kalimat-kalimat pembenaran.

Kami terus diminta percaya, percaya pada program, percaya pada janji, percaya bahwa semua sedang diproses, percaya bahwa keadaan akan membaik.

Maka hari ini,
izinkan kami bertanya:

sampai kapan harapan hanya menjadi pekerjaan rakyat?

kami sudah terlalu sering menambal lubang yang tidak kami buat, terlalu sering mengumpulkan serpihan dari sesuatu yang tidak kami robohkan.

terlalu sering diminta mencintai sementara yang kami terima adalah alasan untuk kembali kecewa, tetapi lihatlah, anehnya kami masih di sini.

Masih membeli bendera menjelang Agustus, masih berdiri ketika lagu kebangsaan dimainkan, masih menyebut Indonesia ketika berdoa untuk masa depan, masih menyimpan sedikit ruang di dalam dada untuk percaya bahwa negeri ini belum selesai.

Mungkin karena cinta kepada tanah air tidak pernah benar-benar berarti menganggap tanah ini sempurna. Justru karena kami mencintainya, kami tidak ingin diam ketika rumah ini salah arah.

Kami marah karena kami peduli. Kami mengkritik karena kami ingin tinggal. Kami bertanya karena kami masih berharap ada jawaban yang lebih baik, dan kalau hari ini tanah air sedang kehilangan arah, semoga masih ada orang-orang yang mau menjadi kompas.

Kalau pemerintah lupa kepada siapa kekuasaan diberikan, semoga rakyat tidak lupa bahwa suara mereka bukan dekorasi demokrasi.

Kalau mereka sibuk menghitung pertumbuhan, semoga ada yang tetap menghitung berapa banyak keluarga yang belum mampu tumbuh dari kemiskinannya.

Kalau mereka sibuk membangun angka, semoga ada yang bertanya tentang manusia yang hidup di balik angka itu.

Sebab Indonesia bukan sekadar garis di dalam peta.

Ia adalah ibu yang anak-anaknya seharusnya tidak perlu meminta belas kasihan untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Ia adalah tanah tempat kami lahir, tempat kami belajar kehilangan, tempat kami menanam harapan, dan mungkin, tempat kami kelak menutup mata untuk terakhir kalinya.

Maka jangan minta kami berhenti mencintai Indonesia.

Kami tidak pernah berniat pergi. Tetapi jangan pula minta kami mencintainya dengan cara berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Sebab cinta yang sehat tidak selalu datang dengan pujian.

Kadang ia datang sebagai pertanyaan yang keras, sebagai kritik yang tidak nyaman, sebagai suara yang menolak diam, sebagai sekelompok manusia yang tetap percaya bahwa tanah ini masih pantas diperjuangkan.

Barangkali itulah bentuk cinta kami hari ini:

tetap tinggal, tetap menjaga, tetap mengingatkan, tetap marah, tetap berharap.

Sebab di antara gempa, korupsi, kemiskinan, janji-janji yang belum selesai, dan masa depan yang sering terasa kabur, kami masih ingin percaya— bahwa tanah air ini bisa pulang menjadi rumah.

Bukan rumah bagi mereka yang paling kuat, bukan rumah bagi mereka yang paling dekat dengan kekuasaan, melainkan rumah bagi siapa pun yang lahir di dalamnya.

dan jika suatu hari Indonesia benar-benar menjadi negeri yang kami impikan, semoga generasi setelah kami tidak perlu belajar mencintai tanah air dari cerita tentang betapa kerasnya kami memperjuangkannya.

Semoga mereka cukup tahu bahwa pernah ada satu generasi yang melihat negerinya hampir kehilangan arah, namun memilih untuk tidak ikut kehilangan harapan.

Tanah air,
kami masih mencintaimu.

Bukan karena kau selalu baik kepada kami.

Tetapi karena kami percaya, negeri ini masih bisa menjadi sesuatu yang lebih baik daripada hari ini.

Dan selama keyakinan itu belum benar-benar mati,

kami akan tetap di sini.

Komentar

Postingan Populer