Dilema Perempuan Di Usia 20-an : Dipaksa Memilih Antara 2 Pilihan

Ada satu kalimat yang rasanya sudah terlalu sering mampir di telinga banyak perempuan: “Kapan nikah?”
Kalimat sederhana yang terdengar ringan, tapi bagi sebagian orang justru bisa terasa menekan.

Di usia ketika sedang berjuang membangun diri, banyak perempuan sibuk dengan karier, menempuh pendidikan, atau mengembangkan karya. Ada yang sedang mengejar beasiswa, ada yang merintis usaha, ada pula yang baru menemukan panggilan hidupnya. Namun entah bagaimana, semua itu sering kali dianggap kurang berarti jika belum dilengkapi dengan satu status: menikah.

Seolah-olah ukuran keberhasilan seorang perempuan hanya terletak pada cincin di jari manisnya.

Padahal, kalau kita jujur, tidak ada hidup perempuan yang jalannya sama. Ada yang menikah di usia muda lalu tetap berkarya. Ada yang memilih fokus dulu pada studi atau karier, lalu menikah setelah merasa siap. Ada juga yang perjalanan hidupnya berbeda sama sekali, tapi bukan berarti salah.

Yang sering kita lupakan adalah: perempuan bukan hanya “tugas sosial” yang harus cepat-cepat diselesaikan. Perempuan adalah individu dengan hak penuh atas dirinya, dengan mimpi, cita-cita, dan ritmenya masing-masing.

Islam sendiri tidak pernah membatasi perempuan untuk berdaya. Mari kita lihat kembali Khadijah r.a., seorang pebisnis ulung yang tetap menjadi istri terbaik bagi Rasulullah ﷺ. Atau Aisyah r.a., yang menjadi guru besar umat dan rujukan ilmu pengetahuan. Mereka adalah bukti nyata bahwa berkarya dan membangun rumah tangga bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Lalu mengapa sekarang seakan-akan perempuan dipaksa untuk memilih? Mengapa seakan-akan karier dan pernikahan adalah dua kutub yang berseberangan?

Aku pikir, mungkin karena ekspektasi sosial yang masih kuat menekan. “Kalau terlalu sibuk bekerja, nanti nggak ada yang mau.” “Kalau nikah terlalu muda, nanti karier nggak berkembang.” Perempuan jadi terhimpit di antara dua suara: ingin setia pada mimpi, tapi juga tak ingin mengecewakan ekspektasi keluarga atau society yang ada.

Padahal, kenyataannya sederhana: pernikahan bukanlah garis akhir hidup, melainkan bagian dari perjalanan. Sama halnya dengan karier, dengan karya, dengan mimpi-mimpi pribadi. Semua punya porsinya sendiri.

Maka, pertanyaan yang lebih adil mungkin bukan “mana yang harus duluan?”, melainkan: “Bagaimana kita bisa berjalan sesuai ritme, tanpa terjebak dalam tuntutan yang tidak realistis?”

Tidak semua orang harus selesai di usia yang sama, tidak semua perempuan harus mengikuti timeline sosial yang seragam. Ada yang sampai di titik tertentu lebih cepat, ada yang lebih lambat, tapi semua berjalan sesuai dengan rencana Allah.

Dan di situlah letak kelegaan: bahwa kita tidak sedang berlomba dengan orang lain, kita hanya sedang berusaha sebaik mungkin di jalan masing-masing.

Maka, mari kita belajar berdamai dengan pilihan hidup kita. Entah itu memilih untuk dulu fokus berkarya, atau memilih untuk lebih dulu membangun rumah tangga keduanya mulia selama dijalani dengan niat yang benar.

Karena sejatinya, rencana terbaik selalu milik Allah.

Dan doa yang mungkin bisa kita bisikkan sederhana saja:

“Ya Allah, jika memang saat ini Engkau ingin aku sibuk dengan mimpi-mimpi yang harus aku perjuangkan, maka kuatkan aku. Jika memang saatnya nanti Engkau pertemukan aku dengan pasangan yang akan menemaniku berjuang, maka mudahkanlah. Jangan biarkan aku merasa kurang hanya karena aku belum sesuai ekspektasi manusia. Cukupkan aku dengan ridha-Mu, agar aku bisa merasa utuh dengan caraku sendiri.”

Komentar

Postingan Populer