In This Economy: Worth It Gak Sih Perempuan Ikut Organisasi?

“In this economy…”  kalimat ini sering jadi pembuka bercandaan sarkas di media sosial. Tapi coba deh kita bawa ke satu konteks: perempuan dan organisasi.

Di tengah situasi hidup yang makin mahal, kerjaan yang makin demanding, waktu yang makin terbatas, sebenernya worth it nggak sih bagi perempuan untuk ikut organisasi?

Banyak perempuan hari ini berada di persimpangan: antara fokus membangun karier, mengamankan finansial, menjaga kesehatan mental, sampai memikirkan masa depan keluarga. Lalu ditambah ajakan, atau bahkan “dorongan halus”, untuk aktif di organisasi baik kampus, komunitas, kantor, atau organisasi sosial. Rasanya seperti: “Kok hidup kita udah ribet, masih harus ditambah tanggung jawab lagi?”

Tapi coba kita lihat dari sisi lain. Organisasi itu bukan sekadar kumpul-kumpul atau rapat panjang yang kadang bikin lelah. Ia bisa jadi ruang belajar yang nggak kita temukan di kelas kuliah atau ruang kantor. Ruang untuk melatih kepemimpinan, belajar manajemen konflik, melatih bicara di depan publik, hingga membangun jaringan yang bisa membuka pintu rezeki di masa depan.

Bagi perempuan, ruang ini bisa sangat berharga. Kenapa? Karena dunia publik masih sering didominasi laki-laki. Di banyak kesempatan, suara perempuan masih dianggap “pelengkap”, bukan pusat keputusan. Dengan ikut organisasi, perempuan bisa mengasah keberanian untuk bersuara, melatih daya tawar, dan membuktikan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kapasitas dan integritas.

Kalau boleh sedikit cerita, salahsatu hal yang akhirnya mendorong aku untuk berani menulis adalah karena ikut organisasi, bahkan yang mengasah kemampuan public speaking-ku juga karena ikut organisasi, banyak hal yang pertama kali aku lakukan karena ikut organisasi, beberapa "ketakutan" juga bisa dikalahkan karena ikut organisasi. 

Namun, realitanya juga harus jujur kita akui: organisasi kadang nggak ramah bagi perempuan. Budaya kerja lembur tanpa batas, rapat larut malam, atau ekspektasi peran ganda yang tidak sensitif gender, sering bikin perempuan merasa terpinggirkan. Apalagi ketika standar “perempuan berdaya” selalu diukur dari seberapa aktif dia tampil di ruang publik, tanpa menghargai pilihan perempuan lain yang mungkin lebih nyaman berkontribusi dengan cara yang berbeda. Maka, memilih organisasi yang tepat adalah salahsatu syarat mutlak kalau kita ingin aktif berorganisasi.

Oiya, kalau ditarik dari perspektif ilmiah, ada penelitian di bidang organizational psychology yang menyebutkan bahwa keterlibatan di organisasi mampu meningkatkan self-efficacy (kepercayaan diri seseorang pada kemampuannya sendiri) dan social capital (modal sosial berupa jaringan, relasi, dan kepercayaan). Dua hal ini punya pengaruh jangka panjang terhadap kesejahteraan psikologis dan mobilitas karier perempuan. Dan ya, aku merasakan langsung, hal-hal yang dipelajari dari berorganisasi, sangat membantu ketika sudah berada didunia kerja. 

Tapi di sisi lain, studi juga menunjukkan bahwa ketika organisasi tidak memiliki kultur inklusif, perempuan justru berisiko mengalami burnout lebih cepat dibanding laki-laki karena mereka harus berhadapan dengan beban ganda, baik di ruang publik maupun domestik.

Maka, pertanyaannya bukan sekadar “worth it atau nggak ikut organisasi”, tapi lebih ke: apa tujuan kita bergabung, dan apakah ruang itu sehat untuk tumbuh? Kalau organisasi hanya menyita energi tanpa memberi ruang berkembang, mungkin kita perlu mempertimbangkan ulang. Tapi kalau ia memberi nilai tambah entah dalam bentuk ilmu, jaringan, pengalaman, atau bahkan sekadar rasa percaya diri yang tumbuh maka di situlah letak keberhargaan ikut organisasi.

Pada akhirnya, perempuan berhak memilih jalannya sendiri. Mau aktif di organisasi atau fokus di ruang personal, keduanya sah. Yang penting: keputusan itu datang dari kesadaran, bukan tekanan. Karena pemberdayaan sejati bukan soal ikut organisasi atau tidak, tapi tentang apakah kita punya kendali penuh atas pilihan hidup kita.

Selamat memilih! 

Komentar

Postingan Populer